Minggu, 22 Mei 2016

Hujan Lima Jam, Ribuan Rumah di Empat Kelurahan Kebanjiran


GULA77 - Ribuan rumah di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan terendam banjir pada Minggu (22/5/2016) pagi. Banjir terjadi akibat air Sungai Walanae meluap karena hujan deras yang terjadi Sabtu 21 Mei 2016 malam.

Ribuan rumah yang terendam banjir berada di empat kelurahan di wilayah kecamatan tersebut. Adapun empat kelurahan itu, yakni Laelo, Salomengraleng, Watalipue, Matirrotappareng. Banjir terparah terjadi di Laelo dan Salomengraleng. Ketinggian air antara 30 sentimeter hingga satu meter.

Sejumlah kendaraan bermotor terlihat mogok saat hendak menerjang lokasi banjir. Warga setempat berharap kepada pemerintah untuk menguncurkan bantuan. "Ketinggin air mencapai satu meter. Saat ini warga kesulitan sembako," kata Arifuddin, warga korban banjir, Minggu (22/5/2016).(Sindo)

Hati-Hati Maraknya Penipuan
Tyga Pesta Dengan Model seksi
Gagal di Piala Thomas





Jumat, 20 Mei 2016

Bripka Seladi, Polisi Yang Memulung Sampah


GULA77 - Nama Bripka Seladi ramai dibicarakan di berbagai media sosial dan juga media massa, baik tulis, radio maupun televisi, dalam beberapa pekan terakhir. Sosoknya sebagai polisi yang tak malu mencukupi kebutuhan keluarga dengan menjadi pemulung, jadi contoh sangat baik di antara berbagai kabar miring akibat ulah segelintir Korps Bhayangkara itu. Tawaran siaran televisi, radio dan agenda wawancara dengan berbagai media pun membanjiri Seladi sehari-hari. Namun sosoknya tetap rendah hati. Tak malu memilah sampah plastik sebagai pekerjaan sampingan untuk mencukupi istri dan tiga anaknya saat ini.

"Maaf ya, ini tadi teman saya yang dinas di Jakarta telepon. Teman lama saya, ternyata masih ingat saya,” kata Bripka Seladi saat ditemui, Jumat, 20 Mei 2016. Siang itu, Bripka Seladi menunjukkan caranya memilah sampah plastik yang menggunung sebuah gudang di Jalan Dr. Wahidin, Kelurahan Klojen Kecamatan Klojen Kota Malang. Sebelumnya, sebuah televisi swasta nasional sengaja datang jauh-jauh dari Surabaya untuk mewawancarai Bripka Seladi lengkap dengan gudang tempatnya menyimpan sampah. Bripka Seladi mendapat izin dari Kasat Lantas Polres Malang untuk menerima wawancara seusai tugasnya di Unit SIM, Satlantas Polres Malang Kota.


"Banyak agenda wawancara, juga undangan dari teman lama. Minggu besok juga ada undangan dari DPR RI di Jakarta. Saya sebagai pelayan masyarakat wajib melayani semuanya,” kata Seladi. Pria berusia 57 tahun kelahiran Desa Jogomulyan Kecamatan Tirtoyudho Kabupaten Malang Jawa Timur itu tidak sedang bercanda. Semua permintaan awak media dipenuhi di sela-sela tugasnya di Unit SIM Polres Malang Kota. Begitupula komunikasi dari karibnya di telepon monokrom miliknya yang nyaris tak berhenti berdering ketika Seladi sedang bebas tugas. "Semua sudah ada rezeki dan tugasnya. Kalau saya diberikan kemampuan ini, ya berarti ini tugas saya. Tidak boleh sombong, kalau ada yang menghina kantongi saja dan dibuang,” kata Seladi mengingat nasihat ibunya.

Ketenarannya seolah menjadi buah manis di akhir masa jabatannya sebagai aparat Kepolisian. Sejak lulus dari Lembaga Pendidikan Brimob di Watu Kosek tahun 1978, Bripka Seladi mulai membaktikan diri sebagai pengayom masyarakarat di banyak unit. Mulai dari unit Sabhara, penugasan ke Timor Timur (sekarang Timor Leste), bertugas di bagian BPKB di Samsat, hingga bertugas di unit Lantas lima tahun terakhir. Namun cara hidupnya tetap sederhana. Bripka Seladi benar-benar tak ingin menyalahgunakan jabatan dan tugasnya sebagai aparat kepolisian untuk kepentingan pribadinya.


Dia pun memilih tetap menggunakan sepeda angin milik bapaknya sejak tahun 1980an dibanding menggunakan kendaraan dinas yang disediakan Polres. Untuk menambah pemasukan dia mulai memulung sejak tahun 2004 hingga saat ini. "Saya tak mau salah menggunakan. Banyak pemberian uang atau benda selalu saya tolak. Mereka berterima kasih karena sudah saya bantu sebagai Polisi. Saya tak mau itu. Ini sudah tugas saya,” kata Seladi. "Saya memulung menggunakan baju layaknya pemulung, bahkan kawan-kawan saya di kepolisian sering tidak tahu jika itu saya. Saya juga akan bertugas sebagai polisi sesuai kewajiban dan tugas saya,” katanya.(Viva)

Lurah Beji Diperiksa
Drake Bangun Rumah Mewah
Tim Thomas Indonesia ke Final 





Rabu, 18 Mei 2016

Kaos Bergambar Logo Palu Dan Arit Ditemukan di Luwu


GULA77 - Satu lagi kaos berwarna hitam dengan logo palu arit berwarna merah, di atasnya ada gambar bintang disertai gambar salah satu pemimpin di China, Asia Timur ditemukan di Belopa, Kabupaten Luwu. Baju tersebut ditemukan oleh MR dari salah seorang penjual cakar yang selama ini berjualan di Belopa. Menurut keterangan MR, baju tersebut sudah dimilikinya jauh hari sebelum isu PKI kembali merebak di tengah masyarakat dan media sosial. "Baju ini sudah lama, saya suka karena di atasnya ada gambar Bintang mirip ikon film Star Wars.

Setelah isu Palu Arit heboh saya lihat baju itu ternyata ada logo palu aritnya. Sementara di belakangnya ada tulisan mirip tulisan China. Saya dapatkan ini sudah lama dari penjual Cakar di Pasar Belopa," tutur MR, Rabu (18/5/2016). Paska hebohnya berita akan bahaya hadirnya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berlambang palu arit, dirinya enggan lagi menggunakan pakaian tersebut. Bahkan MR ingin menyerahkan Baju tersebut ke Polres Luwu agar tidak menjadi masalah bagi dirinya dikemudian hari.

"Saya tidak mau ada apa-apa hanya karena persoalan baju ini, untuk itu saya menginginkan agar baju ini diambil pihak kepolisian saja, saya takut menggunakanya," katanya.
"ini juga saya sampaikan ke media agar pihak berwajib tahu bahwa saya bukan pengikut PKI hanya kebetulan saja memiliki baju yang mirip logo PKI," tambahya. Kapolres Luwu, AKBP Ahmad Yanuar Insan, usai Apel Gabungan operasi patuh mengatakan belum mengetahui terkait temuan baju di atas. "Saya baru dengar, nanti saya minta anggota cari tahu," katanya.

Terkait penindakan atau pun antisipasi akan muncuknya PKI di Indonesia khususnya di Kabupayen Luwu, Kapolres Luwu menegaskan jika mereka serius untuk meberantas PKI jika ada di Kabupaten Luwu. Menurutnya, saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi adanya gerakan PKI di Kabupaten Luwu, namun pihaknya intens melakukan pemantauan soal itu. "Kami serius untuk memantau ini, apalagi sudah ada perintah dari pimpinan. Terkait pencegahan dan pemberantasan tentu kita akan kordinasikan dengan Dandim serta pihak kejaksaan, karena merupakan tugas bersama," pungkasnya.(sindo)

Jadi Pabrik Ekstasi
Musisi Dan Pencipta Lagu
Anthony di Piala Thomas



Senin, 16 Mei 2016

Tidak Sanggup Bayar Biaya Persalinan, Bidan Tahan Bayi Pasien


GULA77 - Seorang oknum bidan di Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan ke polisi gara-gara meminta tebusan uang sebesar Rp20 juta atas biaya persalinan seorang ibu. Sang ibu adalah warga miskin dan tak sanggup membayar uang sebanyak itu. Dia pun tak boleh membawa pulang bayi laki-lakinya. Ibu malang itu diketahui bernama Triani (42 tahun), warga kawasan Kalidoni, Kota Palembang. Dia bersalin di tempat praktik DW di kecamatan setempat pada 31 Januari 2016.

Bayi anak Triani sudah ditahan di tempat praktik DW selama 40 hari. Sang ibu diminta pulang dan tidak boleh membawa bayinya, kecuali membayar Rp20 juta. “Yang membuat sakit hati saya, oknum bidan itu mau menjual anak saya jika tidak membayar uang tebusan. Anak saya sudah usia tiga bulan di sana, sekarang masih ditahan,” kata Triani saat melapor kepada petugas di Markas Polresta Palembang pada Senin, 16 Mei 2016.

Oknum bidan DW pun sempat membuat perjanjian dengan korban untuk membayar biaya persalinan itu secara dicicil. Meski sudah dicicil, anak Triani tak kunjung diserahkan. “Rinciannya, biaya operasi cesar Rp9 juta dan biaya perawatan sebesar Rp125 ribu per hari, selama dirawat 40 hari. Jadi totalnya Rp20 juta. Sudah saya cicil, tapi anak saya tetap tak boleh pulang, katanya menunggu cicilan selesai. Kami ini hanya orang tak mampu,” kata Triani.

Ketua Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Palembang, Adi Sangadi, menyesalkan tindakan Bidan DW. Sebagai seorang bidan, DW tak seharusnya menahan anak pasien, apalagi dilatarbelakangi biaya. “Anak itu masih bayi dan butuh perawatan dari orang tuanya. Harusnya hal itu tidak boleh dilakukan,” ujar Adi, saat mendampingi korban melapor kepada polisi.

 Adi mengingatkan bahwa oknum bidan itu telah melanggar etika dan sumpah profesi. Adi mempertimbangkan untuk meminta pencabutan izin praktik bidan DW. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Palembang, Komisaris Polisi Maruly Pardede, menjelaskan bahwa penyidik pada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak tengah memproses laporan korban. Bidan DW segera diperiksa untuk mengonfirmasi laporan korban.(Viva)

Misteri Kasus Pembunuhan
Kylie Dengan Scott Disick
Dani Tetap di Honda




Minggu, 15 Mei 2016

Air Terjun Dua Warna Longsor, 20 Mahasiswa Hilang


GULA77 - Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Deli Serdang, Sumatera Utara, berhasil mengevakuasi 56 orang, dari 76 orang wisatawan korban longsor di Air Terjun Dua Warna, Sibolangit, Sumatera Utara, Minggu malam, 15 Mei 2016.

 Kini, seluruh korban yang selamat sudah ditampung di posko BPBD Deli Serdang, di Bumi Perkemahan, Sibolangit. Sedangkan 20 orang lagi masih dalam proses pencarian tim rescue BPBD Deli Serdang.

Korban longsor tersebut mayoritas adalah mahasiswa yang sedang menikmati liburan di air terjun, dengan nama lain Air Terjun Telaga Biru Sibolangit. "Jumlah mahasiswa semua 76 orang dan yang sudah dievakuasi  56 orang dan belum ditemukan 20 orang," ungkap Darwin Surbakti, Sekretaris BPBD Deli Serdang.

Darwin menjelaskan ke-76 korban merupakan mahasiswa asal kota Medan, dari Sekolah Ilmu Kesehatan (Sikes) Flora Medan sebanyak 23 orang, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) berjumlah 5 orang.

Kemudian, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH USU) sebanyak 5 orang, GMKI Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU sebanyak 28 orang dan warga kompleks Adam Malik 28 orang. "Untuk 20 orang lagi, masih proses pencarian tim kita sampai saat ini," kata Darwin.(Viva)

Uang Untuk Berobat
Aaron Carter Bangkrut
Peter Pouly Pensiun




Jumat, 13 Mei 2016

Warga Diterkam Buaya Saat Menarik Batang Kayu Gelondongan di Sungai


GULA77 - Badan SAR Nasional (Basarnas) merilis seorang warga Desa Pembeliangan Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara diterkam buaya saat menarik batang kayu gelondongan di sungai yang banyak dihuni buaya ganas itu. Kepala Basarnas Kabupaten Nunukan, Octavianto di Nunukan, Selasa malam mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat adanya warga yang diterkam buaya sekitar pukul 19.43 wita.

Warga bernama Krisman (40) yang menjadi korban tersebut sedang mandi di sungai setelah mengambil kayu bersama istrinya bernama Simang (30) di Sungai Sebuku sekitar 100 meter dari Gunung Patah Tenggaruk Desa Pembeliangan Kecamatan Sebuku. Berdasarkan laporan yang diterima, Octavianto menerangkan kejadian itu berlangsung sekitar pukul 15.00 wita dimana korban bersama istrinya usai mengambil kayu menggunakan perahu kayu tiba-tiba diterkam buaya yang belum diketahui ukurannya sampai sekarang.

Sehubungan dengan hal itu, Basarnas setempat langsung menuju lokasi kejadian melakukan pencarian namun dihentikan sementara pada malam itu juga sekitar pukul 21.00 wita dan dilanjutkan esok hari, Rabu (11/5). Octavianto menambahkan, istri korban yang beralamat RT 01 Desa Pembeliangan ini saat ini belum dapat dikonfirmasi kronologis kejadiannya karena masih dalam kondisi trauma karena suaminya diterkam buaya di depan matanya.

 "Informasi yang kami peroleh, korban bersama istrinya sedang menarik kayu yang hanyut menggunakan perahu kayu. Tiba-tiba seekor buaya menerkamnya dan ditenggelamkan masuk sungai yang memang banyak dihuni buaya itu," terang Octavianto. Informasi lain yang diperoleh dari warga setempat bernama Melania Widya menyebutkan, dirinya mendapatkan informasi dari pemerintah setempat bahwa korban diterkam buaya saat sedang mandi di sungai usai mengambil kayu tidak jauh dari lokasi kejadian.(analisa)

Proyek Trotoar Dikorupsi
Bertabur 100 Ribu Swarovski
Indonesia Open 2016





Kamis, 12 Mei 2016

Banjir Bandang di Kalsel, Tiga Orang Meninggal


GULA77 - Tiga orang tewas saat banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Selasa, 10 Mei 2016, pukul 03:00 WIT. Banjir bandang melanda Dusun Batugah, Desa Sengayam, Kecamatan Pamukan Barat, Kabupaten Kotabaru, Kalsel. "Tiga orang meninggal dunia dan 1 orang belum ditemukan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers Kamis malam, 12 Mei 2016.

Setidaknya 151 unit rumah rusak ringan, 14 unit rumah rusak berat dan 251 KK (907 jiwa) terdampak banjir. Peristiwa tersebut juga menyebabkan satu jembatan tidak dapat dilalui karena terjadi rekahan. Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan ini terjadi akibat hujan deras yang terjadi selama dua hari berturut-turut. "Tim TRC BPBD Kotabaru, bersama Kodim 1004 KTB, Polres Kotabaru dan Basarnas melakukan pencarian korban hilang," ujarnya.

Saat ini, BPBD setempat langsung bergerak dengan memberikan bantuan logistik berupa mie instan, minuman kemasan dan makanan. "Kepala BNPB, Willem Rampangilei, telah memerintahkan Tim Reaksi Cepat BNPB untuk memberikan pendampingan BPBD. Penanganan darurat dilakukan untuk pencarian korban hilang dan pemberian kebutuhan dasar bagi pengungsi," terang Sutopo. Lebih lanjut Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dengan cuaca ekstrem selama musim peralihan yang sering terjadi hujan berintensitas tinggi.(Viva)